Minggu, 22 Oktober 2017

Kelompok Sosial



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Manusia merupakan makhluk hidup ciptaan Tuhan yang memiliki keistimewaan  berupa perasaan dan kemampuan berpikir. Kemampuan merasakan dan berpikir yang menyebabkan manusia selalu membutuhkan manusia lain untuk memenuhi kebutuhan  jasmani dan rohaninya. Dalam perkembangannya, kebutuhan manusia terhadap kehadiran manusia lain mendorong terbentuknya kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat. Membentuk kelompok dan hidup berkelompok merupakan naluri yang dimiliki manusia sejak dilahirkan. Naluri ini mendorong mansuia untuk selalu menyatukan hidupnya dengan manusia lain atau dengan kelompok lain.
Kelompok sosial merupakan suatu gejala yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena sebagian besar kegiatan manusia berlangsung didalamnya. Sejak lahir kita telah menjadi anggota kelompok yaitu keluarga. Setelah keluarga pastii dilingkungan rumah, sekolah ataupun lingkungan negara.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana konsep dasar Kelompok Sosial?
2.      Apa saja jenis-jenis Kelompok Sosial?
3.      Apa saja Aspek dalam Psikologis  Kelompok Sosial?
4.      Apa saja Norma-norma dalam Kelompok Sosial?
C.     Tujuan
1.      Mengetahui Konsep Dasar Kolompok Sosial.
2.      Mengetahui jenis-jenis Kelompok Sosial.
3.      Mengetahui Aspek-aspek Psikologis Kelompok Sosial.
4.      Mengetahui Norma-norma dalam Kelompok Sosial.





BAB II
LANDASAN TEORI

A.    Konsep dasar Kelompok Sosial
Secara sosiologis, istilah kelompok sosial  mempunyai pengertian sebagai perkumpulan orang yang mempunyai hubungan dan berinteraksi, yang dapat  mengakibatkan tumbuhnya perasaan bersama[1]. Kelompok sosial tersebut. Merupakan kesatuan manusiayang hidup bersama, mempunyai keinginan,tujuan dan persaaan yang sama. Jadi, perasaan dan kesatuan dalam kelompok sosial akan tercapai apabila setiap anggota kelompok mempunyai pandangan yang samatentang masa depan bersama, dan dengan sadar mereka mengetahui tugas-tugas dan syarat-syarat mewujudkan masa depannya  itu.
Menurut Mayor Polak, kelompok sosial adalah sejumlah orang yang saling berinteraksi dalam sebuah struktur.
Menurut Robert K. Merton, kelompok sosial merupakan himpunan atau kesatuan manusia yang hidup bersama, yang bersifat mempengaruhi dan tolong menolong.
Kesimpulanya kelompok sosial dirtikan sebagia kumpulan individu yang saling memiliki hubungan dan saling berinteraksi sehingga mengakibatkan tumbuhnya rasa kebersamaan dan saling memiliki.
Kelompok sosial juga mempunyai syarat-syarat untuk terbentuk yaitu [2]:
1.         Kesadaran berkelompok, setiap anggota harus sadar bahwa diriny merupakan sebagian dari kelompok yang bersangkutan.
2.         Interaksi sosial: ada hubungan timbal balik antara anggota yang sama dengan yang lainnya.
3.         Organisasi sosial : terdapat suatu struktur organisasi dan suatu faktor yang dimiliki bersama oleh anggota kelompok sehingga hubungan antar mereka terhambat.




B.     Jenis-Jenis Kelompok Sosial
Mengenai pembagian kelompok sosial dapat dibedakan menjadi kedalam beberapa tipe yang ditinjau dari beberapa sudut atau berdasarkan pembagian kriteria atau ukuran[3]. Kelompok sosial pada dasarnya dapat dibedakan menjdi atas:
1.         Kelompok-kelompok sosial yang teratur
2.        Kelompok-kelompok sosial yang tidak teratur

Kedua kelompok tersebut masih dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu
1.         Kelompok sosial tetratur : in Group,Out Group,Primer,Sekuder, Paguyuban (Geenschaft),Patembayan(GesselScaft),Formal,Informal,Membership Group,Refrence Group, okapasional dan volunteer.
2.         Kelompok sosial tidak terartur : Kerumunan, Publik.


1.      Kelompok Sosial Teratur
A.    In Group
Kelompok sosial yang dimana individu mengidentifikasi dirinya. In Group bersifat relatif dan tergantung situasi kelompok sosial tertentu. Menurut Sumner  dikalangan anggota kelompok dijumpai persahabatan,kerjasama,keteraturan dan kedamaian[4].
B.     Out Group
Kelompok sosial yang kebalikannya dari in group , sikap outgroup selelu ditandai dengan suatu kelainan yang terwujud antagonis atau antipati. Perassan in
C.     Primer
Menurut Cooley kelompok  kelompok primer adalah kelompok-kelompok yang ditandai dengan ciri-ciri saling mengenal antara anggota-anggotanya serta kerja sama yang erat yang bersifat pribadi. Sebagai salah satu hasil hubungan yang erat dan bersifat pribadi tadi adalah adanya peleburan individu-individu ke dalam kelompok-kelompok sehingga tujuan individu menjadi tujuan kelompok juga. Oleh karena itu hubungan sosial di dalam kelompok primer berisfat informal (tidak resmi), akrab, personal, dan total yang mencakup berbagai aspek pengalaman hidup seseorang.

Di dalam kelompok primer, seperti: keluarga, klan, atau sejumlah sahabat, hubungan sosial cenderung bersifat santai. Para anggota kelompok saling tertarik satu sama lainnya sebagai suatu pribadi. Mereka menyatakan harapan-harapan, dan kecemasan-kecemasan, berbagi pengalaman, mempergunjingkan gosip, dan saling memenuhi kebutuhan akan keakraban sebuah persahabatan

D.    Sekunder
Berbeda dengan primer, Cooley  tidak menyebutkan ciri yang khas, hanya saja segala sesuatu yang dikatakan di kelompok primer, pda sekunder adalah kebalikannya. Untuk kelompok sekunder memiliki ciri jumlah anggotanya banyak sehingga angootanya tidak saling mengenal, sifatnya tidak permanen.

E.Paguyuban (Gemeinschaft)
        Konsep Paguyuban dan Patembayan  dikemukakan oleh Ferdinand Tonnies.Paguyuban adalah  bentuk kehidupan bersama dimana anggota anggota diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta kekal[5]. Dasar hubungan tersebut adalah rasa cinta dan kesatuan batin yang memang telah di kodratkan.kehidupan tersebut bersifat nyata dan organis. Bentuk paguyuban akan dijumpai di dalam kelompok keluarga, kelompok kerabat,rukun tetangga, dan sebagianya. Secara umum ciri-ciri paguyuban adalah:
1)    Intimate, yaitu hubungan yang bersifat menyeluruh, dan harmonis.
2)    Private, yaitu hubungan yang bersifat pribadi
3)    Exlusive, yaitu hubungan tersebut hanyalah untuk “kita dan tidak” untuk orang lain
4)    Paguyuban karena ikatan darah, yaitu paguyuban yang merupakan ikatan yang didasarkan pada ikatan darah atau keturunan, misalnya keluarga dan kelompok kekerabatan
5)    Paguyuban karrena tmpat, yaiu suatu paguban yang terdiri dari ats orang-orang  yang berdekatan tempat tinggal sehinnga dapat saling tolong menolong. Misalnya kelompok arisan, rukun teteangga
6)    Paguyuban karena jiwa pikiran, yaitu paguyuban yang terdiri dari atas orang-orang walaupun tidak mempunyai hubungan darah ataupun tempat tinggal ataupun tempat tinggal nya idak berdekatan mereka mempunyai jiwa, pikiran, dan ideologi yang sama. Ikatan ini tidak sekuat dengan paguyuban darah ataupun keturunan.
F.Patembayan (Gessellschaft)
Partembayana adalah ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktu yang pendek, bersifat sebagai suatu bentuk dalam pikiran belaka (imajinasi) serta strukturnya bersifat mekanis.bentuk gesselschaft terdapat hubungan timbal balik, misalnya ikatan perjanjian kerja, birokrasi dalam suatu kantor, perjanjian dagang dan sebagainya.



Paguyuban
Patembayan
Personal Informal
Tradisional
Sentimental
Umum
Inpersonal Formal
Utilatarian
Realistis “Ketat”
Khusus
Tabel 1.1
Ciri-ciri hubungan Paguyuban dan Patembayan

G. Formal Group
       Formal Grup adalah kelompok yang mempunyai peraturan yang tegas  dan sengaja diciptakan oleh anggota-anggotanya untuk mengatur hubungan antar sesama. Kriteria hubungan formal group merupakan keberadaan tata cara untuk mengkoordinasikan usaha-usaha demi tercapainya tujuan berdasarkan bagian-bagian organisasi yang bersifat khusus.
H. Informal Group
Informal Group merupakan kelompok yang tidak mempunyai stuktur dan organisasi yang pasti. Kelompok kelompok tersebutterbentuk kerana pertemuan yang berulang-ulang. 
I.         Membership Group
Membership group adalah kelompok sosial yang didalamnya setiap prang secara fisik menjadi anggota kelompok tersebut. Batas-batas fisik yang dipakai untuk menentukan keanggotaan seseorang tidak dapat ditentukan secara mutlak. Situasi yang tidak tetap akan mempengaruhi interaksi dalam kelompok tadi, ada kalanya seorang anggota tidak sering berkumpul dengan anggota kelompok tersebut walupun belum resmi ia belum keluar dari kelompok tersebut.
J. Refrence Group
Refrence Group adalah kelompok sosial yang menjadi acan seseorang (bukan anggota kelompok) untuk membentuk pribadi dan perilakunya. Dengan kata lain seseorang yang bukan anggota kelompok sosial bersangkutan mengidentifikasi dirinya dengan kelompok tadi.
K. Kelompok Okapasional dan Volunteer
      Setelah kelompok kekerabatan yang semakin pudar fungsinya, muncul kelompok okupasional yang merupakan kelompok terdiri atas pekerjaan sejenis[6]. Kelompok semacam ini sangat besar perannnya dalam mengarahkan kepribadian terutama para anggotanya.  Sejalan dengan berkembangnya tekhnologi komunikasi dan, hampir tidak ada masyarakat yang tertutup dari dunia luar sehingga ruang jangkauan masyarakat semakin luas. Hal ini mengakibatkan semakin heterogennya masyarakat tersebut, akhirnya tidak semua kebutuhan masyarakat terpenuhi.
Akibat tidak terpenuhinya kepentingan masyarakat secara keseluruhan muncullah kelompok Volunteer. Kelompok ini terdiri atas orang-orang yang mempunyai kepentingan yang sama, tetapi tidak mendapatkan perhatian masyarakat yang semakin luas jangkauannya.

2.      Kelompok Sosial Tidak Teratur
Bermacam-macam kelompok sosial yang tidak teratur dapat dimasukan kedalam dua golongan besar yaitu kerumunan dan publik.[7]

A.    Kerumunan ( Crowd)
Kerumunan merupakan kelompok sosial yang bersifat sementara dan tidak terorganisasi. Interaksinya bersifat spontan dan tidak terduga. Orang-orang berkumpul secara kebetulan di suatu tempat pada waktu yang bersamaan. Bentuk kerumunan sebagai berikut :
1.      Kerumunan berartikulasi dengan struktur sosial :
a.       Pendengar yang formal, yaitu kerumunan yang mempunyai pusat perhatian dan persamaan tujuan, tetapi sifatnya pasif.
b.      Kelompok ekspensif yang telajh direncanakan, yaitu kerumunan yang pusat perhatiannya tidak begitu penting tetapi mempunyai persamaan dan tujuan yang tersimpul dalam aktivitas kerumunan tersebut serta kepuasan yang dihasilkan.
2.      Kerumunan bersifat sementara sebagai berikut :
a.       Kumpulan yang kuraang menyenangkan
b.      Kumpulan orang yang sedang dalam keadaan panik
c.       Kerumuunan penonton
3.      Kerumunan yang berlawanan dengan norma-norma hukum
a.       Kerumunan yang bertindak emosional, yaitu kerumunan yang menggunakan kekuatan fisik dan berlawanan dengan norma-norma
b.      Kerumunan yang bersifat immoral, yaitu bertentangan dengan norma –norma
B.     Publik
Publik lebih merupakan kelompok yang tidak merupakan kesatuan. Interaksi terjadi secara tidak langsung melalui alat-alat komunikasi seperti pembicaraan pribadi,radio,surat kabar,film, dan sebgainya. Individu masih mempunyai kesadaran akan kedudukan sosial yang sesungguhnya  dan masih mementingkan kepentingan pribadi.
  
C.    Norma-norma Kelompok Sosial
            Norma kelompok adalah pedoman yang mengatur perilaku atau perbuatan anggota kelompok[8]. Dalam organisasi yang bersangkutan terdapat norma-norma yang berlaku. Dalam norma kelompok, sikap tanggapan anggota bermacam-macam. Ada yang tunduk, ada juga yang terpaksa karena ingin bergabung dengan kelompok yang besangkutan. Norma kelompok bersifat tidak tetap yang dapat berubah sesuai dengan keadaan yang dihadapi. Norma bisa tertulis, bisa juga tidak tertulis. Untuk organisasi formal norma diterapkan tertulis,
Macam – macam Norma Kelompok Sosial
Norma sosial adalah kebiasaan umum yang menjadi patokan perilaku dalam suatu kelompok masyarakat dan batasan wilayah tertentu. Norma akan berkembang apabila adanya kesepakatan didalam kelompok masyarakat atau yang di sebut juga dengan peraturan masyarakat. Keberadaan norma di masyarakat sifatnya memaksa individu atau kelompok agar bertindak sesuai dengan ketentuan sosial yang telah terbentuk. Norma dibuat dengan bertujuan agar hubungan manusia dalam masyarakat berlangsung tertib sebagaimana yang diharapkan.
Adapun macam – macam norma sosial, menurut Abu Ahmadi, adalah sebagai berikut:
a.       Norma Kelaziman/Kebiasaan (folkways)
Kebiasaan ini merupakan cara – cara bertindak yang digemari oleh masyarakat sehingga dilakukan secara berulang – ulang. Folkways memiliki kekuatan yang lebih besar. Misalnya mengucapkan salam saat bertemu, atau membungkukkan badan sebagai tanda hormat kepada yang lebih tua. Atau lain sebagainya.
b.      Norma Kesusilaan/Tata Kelakuan (Mores)
Norma kesusilaan ini bersumber pada filsafat, ajaran agama ataupun ideologi yang dianut oleh masyarakat, yang melanggar norma ini disebut dengan penjahat. Contoh, larangan berjudi, berzina, minum minuman keras, pengguna narkotika dan zat – zat adiktif, serta mencuri.
Fungsi Norma Kesusilaan antara lain : 1) memberikan batasan – batasan terhadap tingkah laku individu; 2) mengidentifikasi individu dan kelompoknya; 3) menjaga solidaritas antar masyarakat untuk menciptakan integrasi sosial yang kuat.
c.       Norma Hukum (Laws)
Hukum adalah suatu rangkaian aturan yang ditujukan kepada anggota masyarakat yang berisi ketentuan, perintah, kewajiban atau larangan agar dalam masyarakat tercipta suatu keterlibatan dan keadilan. Peraturan – peraturan norma hukum sudah disusun dalam undang – undang maupun konvensi – konvensi, yang sanksinya berupa denda atau hukuman fisik.
Norma hukum ada dua jenis, yaitu sebagai berikut :
1)      Norma yang bersifat formal dan aturan tertulis. Misalnya, hukum pidana, hukum perdata, dan lainnya. Sanksi terhadap pelanggar sifatnya paling tegas dibandingkan norma – norma lainnya.
2)      Hukum adat, merupakan norma yang tidak tertulis namun sangat kuat mengikat sehingga anggota masyarakat yang melanggar adat istiadat akan menderita karena sanksi keras yang kadang – kadang secara tidak langsung dikenakan.

d.      Norma Mode
Perbuatan ini biasanya dilakukan dengan tiru – tiru atau iseng – iseng. Di dalam masyarakat, mode ini sangat cepat berkembang dikarenakan orang mengikuti mode untuk meningkatkan gengsi.

D.    Aspek – aspek Psikologis Kelompok Sosial
Peristiwa psikologis dalam kelompok meliputi berbagai kehidupan peristiwa yang hampir selalu terjadi apabila dua orang atu lebih berada dalam satu kelompok dan terjadi sebuah hubungan. Proses hubungan dapat terjadi antara lain berupa:[9]
1.      Komunikasi
Secara psikologis, komunikasi diartikan sebagai suatu peroses dimana seorang individu (komunikatro) mentransformasikan stimulir (verbal) untuk memodifikasi perilaku individu lain (audience)
Hubungan manusia terjadi melalui pesan yang disampaikan, baik perilaku verbal maupun nonverbal. Selain itu, perilaku sebagai pesan harus memenuhi dua syarat:
a.       Harus diobsesi oleh seseorang
b.      Harus mengandung makna
Dalam analisis komunikasi, ruang lingkup yang dipelajari adalah:
a.       Stuktur sosial komunikan
b.      Nilai kebenaran ucapan
c.       Katakata sehubugan dengan suasaana percakapan
d.      Latar belakang kebudayaan
e.       Kepribadian dari komunikan
2.      Konflik
Konflik merupakan suatu proses yang terjadi a[abila perilaku seseorang terhambat oleh perilaku orang lain atau oleh kejadian-kejadian yang berada di luar wilayah kendalinya. Selain biasa terjadi di antara dua orang atau lebih, dalam sebuah organisasi-baik organisasi formal mauoun informal- konflik bisa jga terjadi di dalam diri seseorang, yaitu antara dua atau lebih kepentingan yang harus dipenuhi dalam waktu atau kesempatan yang smaa-sama pentinganya harus diambil.
3.      Kerjasama
Untuk mencapai rfektifitas dan produktifitas sebuah kelompok atau tim kerja, diperukan suasana yang solid dan kondusif untuk memungkinkan terjadinya proses kerjasama di antara sesama anggotanya dalam mencapai tujuan kelompok
4.      Rasa percaya (trust)
Adanya rasa percaya setiap anggota akelompok terhadap anggota lain meruakan salah satu ciri kelompok yang efektif. Di dalam kelompok terdapat empat bentuk rasa percaya, yaitu :
a.       Rasa para angota kelompok pada pimpinannya
b.      rasa percaya terhadap anggota kelompok
c.       rasa percaya antar sesama angaaota kelompok secara individual
d.      rasa percaya setiap anggota kelmpok terhadap kelompok lain sebagai satu kesatuan
5.      Keterbukaan (Openess)
Keterbukaan adalh suatu skap dalam diri seseorang yang merasakan bahwa apa yang siketahui orang lain ltentang dirinya bukan;ah suatu ancamanyang akan membahayakn keselamatannya. Ia tidak merasaa perlu menyembunyikan sesuatu dalam dirinya, baik yang berhubungan dengan kepentingan orang lain maupun yang tidak berhubungan ddengan kepentingan rang lain tersebut.
6.      Realisasi dir/ perwujudan diri
Perwuudan diri merupakan salah satu bentuk ikebutuhan manusia. Maslow menyebutkan sebagai tingkat kebuthan yang pealing dan paling sukar diidentifikasikan kearena setiap orang akan berusaha memenuhi kebutuhan yang satu ini denga caranya masing-masing
7.      Saling ketrgantungan
Saling ketergantungan merupakan kondisi mental anggota kelompok dengan saling mengandalkan anggota lain dalam melakukan realitas sosial di dalam kelompoknya  menurut Schachter, kondisi saling ketergantungan ini dipengaruhi oleh tiga variabel :
a.       Cohesiveness atau ikatan anter individu
b.      Ketersangkut pautan
c.       State pinion atau pernyataan pendapat
Ketergantungan ini depengaruhi oleh perbedaanperbedaan yang terjadi diantaranya.
8.      Umpan balik
Penggunaan umpan balik merupakan suatu caara untuk menjelaskan salah pengertian dalam hubungan yang penting diantara dua individu yang berinteraksi (bunker, 1992). Selanjutny dikatakan bahwa sumber ketegangan dalam hubungan antara dua orang individu adalah adanya:
a.       Perbedaan kepentingan
b.      Salah pengertian terhadap periaku pihak lain
9.      Kelompok yang efektif atau yang kurang efektif
-          Kelompok efektif
Dalam sebuh kelompok yang efekif dapat kita saksikan adanya kaategori perilaku anggota kelompok, yaitu:
a.       Perilaku yang berorientasi pada tugas
Selalu berupaya mengingatkan dan mengajk anggota kelompok untuk mewujudkan pencapaian tujuan organisasi.
b.      Perlaku yang berorientasu oada oemeliharaan hubungan anggota kelompok.
Selalu berupaya mengingatkan dan mengajak anggota kelompok untuk mempertahnkan keutuhan kelompok.
-          Kelompok kurang efektif
Dalam sebuah kelompok yang kurang efektif, dapat disaksikan perilaku anggota yang berorientasi pada diri sendiri. Nemun, adakalanya perilaku tersebut tidak selamanya jelek, terkadang ada yang bermanfaat, antara lain:
a.       Untuk menguji agar keputusan kelompok betu;-betul melalui suatu keputusan kelompok
b.      Dalam proses dinamika kelompok, perilaku berorientasi pada diri sendiri tersebut justru menjadi bahan pembelajaran yang baik untuk anggota kelompok.










BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari pemabahasan diatas dapat kita simpulkan bahwa  Kelompok Sosial dirtikan sebagia kumpulan individu yang saling memiliki hubungan dan saling berinteraksi sehingga mengakibatkan tumbuhnya rasa kebersamaan dan saling memiliki. Kelompok sosial juga mempunyai syarat-syarat terbentuk yaitu kesadaran sosial, interaksi kelompok dan organisasi sosial. Kelompok sosial bermacam-macam jenisnya  dan terbagai menjadi 2 yaitu kelompok sosial teratur dan kelompok sosial tidak teratur. Kelompok sosial teratur yaitu, in group, out group, primer,sekunder,informal,non formal,paguyuban,patembayan,membership group, refrence group, okapasional dan volunteer. Dan kelompok sosial tidak terartur adalah kerumunan dan publik.
            Kelompok sosial juga mempunyai norma, norma kelompok adalah pedoman yang mengatur perilaku atau perbuatan anggota kelompok. Dalam organisasi yang bersangkutan terdapat norma-norma yang berlaku. Dalam norma kelompok, sikap tanggapan anggota bermacam-macam. Ada yang tunduk, ada juga yang terpaksa karena ingin bergabung dengan kelompok yang besangkutan. Norma-norma sosial Dalam organisasi yang bersangkutan terdapat norma-norma yang berlaku. Dalam norma kelompok, sikap tanggapan anggota bermacam-macam.









   
DAFTAR PUSTAKA

Arifin,Samsul Bambang.2015.Psikologi Sosial.Bandung: Pustaka Setia
Naroko,Dwi dan Suyatno Bambang.2004.Sosiologi Teks Pengantar Terapan:Prenada Media Group
Tugasbimbingankonseling.blogspot.co.id/2016/03/materi-bk-kelompok-jenis-jenis-kelompok.html diunggah 24 Maret 2016


[1] Bambang Samsusl Arifin,Psikologi Sosial (Bandung:Pustaka Setia,2015).hlm.64
[2] Ibid.,hlm. 67
[3] Dwi Naroko dan Bagong Susanto,Sosiologi Teks Pengantar Terapan (Jakarta:Prenada Media Group,2004)hlm.24
[4] Ibid.,hlm 25
[5] Bambang Samsul Arifin.,Op.Cit.hlm 79
[6] Ibid.,hlm.82
[7] Ibid.,hlm 83
[8] Ibid.,hlm 85
[9] tugasbimbingankonseling.blogspot.co.id/2016/03/materi-bk-kelompok-jenis-jenis-kelompok.html diunggah 24 Maret 2016

Kelompok Sosial

BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Manusia merupakan makhluk hidup ciptaan Tuhan yang memiliki keistimewaan  berupa perasa...

 
Widya's World Blogger Template by Ipietoon Blogger Template